ANALISIS DEKONSTRUKSI TOKOH TAKESHI DAN MITSUSABURO DALAM NOVEL SILENT CRY KARYA KENZABURO OE PERSPEKTIF JACQUES DERRIDA. MEMAHAMI KARYA SASTRA POSTMODERN MELALUI PEMBACAAN DEKONSTRUKSI DERRIDA. Artikel ini membahas dua masalah utama, yaitu (1) gagasan-gagasan kunci dekonstruksi Derrida dan (2) dekonstruksi sebagai strategi pembacaan teks sastra.

Author: Kajitilar Ditaxe
Country: Turks & Caicos Islands
Language: English (Spanish)
Genre: Career
Published (Last): 4 November 2004
Pages: 157
PDF File Size: 7.69 Mb
ePub File Size: 2.81 Mb
ISBN: 856-4-56369-263-1
Downloads: 29082
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Nemi

Goodreads helps you keep track of books you want to read. Want to Read saving….

Bahasa Dekonstruksi ala Foucault dan Derrida by Dadang Rusbiantoro (2 star ratings)

Want to Read Currently Reading Read. Refresh and try again. Open Preview See a Problem? Thanks for telling us about the problem. Return to Book Page. Paperbackpages. To see what your friends thought of this book, please sign up. To ask other readers questions about Bahasa Dekonstruksi ala Foucault dan Derridaplease sign up.

Be the first to ask a question about Bahasa Dekonstruksi ala Foucault dan Derrida. Lists with This Book. This book is not yet featured on Listopia. Jun 08, gieb rated it liked it.

Derrida adalah sebuah nama kontroversial sebagai seorang tokoh filsuf. Ajaran dia tentang dekonstruksi digugat banyak pihak. Dia meninggal Oktober dalam usia 74 tahun karena kanker pankreas. Beberapa ilmuwan boleh saja mencibir lelaki kelahiran El Biar, wilayah terpencil di Aljazair ini. Mereka bilang, Derrida tak sepenuhnya berfilsafat. Derrida hanya bermain-main dengan filsafat. Puncaknya, ketika pada Universitas Cambridge hendak memberi penghargaan pada Derrida, banyak profesor di s Derrida adalah sebuah nama kontroversial sebagai seorang tokoh filsuf.

Puncaknya, ketika pada Universitas Cambridge hendak memberi penghargaan pada Derrida, banyak profesor di sana yang menolak. Alasan mereka, tulisan Derrida mengemukakan ajaran yang absurd, yang menolak pembedaan antara kenyataan dan fiksi.

Sebab defenisi, kata Derrida, adalah sebuah pembatasan. Padahal dekonstruksi dimaksudkan untuk menembus batas. Dengan banyak membaca, menurut Derrida. Jadi, Goodreads ini bisa menjadi langkah pertama untuk me-dekonstruksi, seperti kata Derrida. Tentu membaca dalam pengertian Derrida bukan membaca biasa dalam arti mengeja huruf per huruf dan melafalkan kata per kata, tapi membaca dalam dua lapis.

Lapis kedua berusaha memperlihatkan titik lemah serta kontradiksi dalam tafsiran dominan itu dan menyajikan pembacaan tandingan lain. Pembacaan yang dilakukan Derrida berusaha membongkar hegemoni tafsir yang menghasratkan ketunggalan, berupaya mengguncang pemaknaan dominan atas teks. Bagi Derrida, setiap teks mempunyai dunianya sendiri yang kaya. Pusat teks ada di mana-mana.

  HUNTINGTON LIRR PDF

Bahasa Dekonstruksi ala Foucault dan Derrida

Dunia teks yang demikian terlalu reduktif bila mesti dimaknai dengan satu atau beberapa makna dominan, yang pada gilirannya memandulkan lahirnya pemaknaan lain. Kekayaan teks, bagi Derrida, terletak pada kekayaannya mengandung kembaran makna dan kebergantian makna-makna tersebut—dalam artian tidak ada maknanya yang final. Dunia adalah teks yang tak mempunyai pusat, kata Derrida. Jika ada yang berusaha mereduksi teks itu menjadi kekuatan sentral, dia sudah dekonxtruksi fasis.

Tetapi ini bukan berarti Derrida tak percaya adanya pusat. Tetapi, Derrida mengimani, tetap bisa berjalan terus tanpa pusat. Kata Derrida, pusat adalah suatu fungsi, bukan makhluk. Bukan suatu realitas, tetapi sebuah fungsi. Dan Derrida tidak menghancurkan pusat itu, tetapi menempatkannya.

Dunia penuh dengan teks. Dekonsrruksi hidup dalam teks. Berarti kita hidup dalam Derrida. Jangan-jangan, kita adalah Derrida. Kira-kira, saya waktu itu sedang duduk di kelas 1 sebuah SD di daerah Surakarta.

Widyariset

Saya lagi asik-asiknya bermain dan belajar berhitung waktu itu. Tetapi, sementara itu, nun jauh di Paris sana, langit sedang mendung. Michel Foucault mangkat pada usia 58 tahun. Katanya sih sakit yang hari ini kita kenal penyakitnya dengan AIDS. Foucault menjadi orang Perancis pertama yang meninggal karena penyakit itu. Menakutkan tak kabar itu? Tentu bagi sebagian orang kabar ini menggentarkan. Tetapi seandainya mereka tahu siapa Foucault, saya kira, mereka akan iri.

Karena pria plontos ini sedang menikmati surga lebih dulu dari kita. Foucault mengajarkan pada kita agar tidak silau pada selebritas seseorang. Manusia zaman sekarang, kata Foucault, terlalu di kendalikan oleh ketertarikan pada karakter orang. Persepsi selalu tercantol pada nama, pada wajah. Kata-kata tidak lagi didengarkan menurut kekuatan isinya, melainkan siapa yang mengucapkan. Foucault telah mengabarkan pada kita untuk berani memilih jalan sendiri.

Lebih dari itu, ia juga telah membukakan jalan lain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Memang tidaklah murah harga untuk membabat hutan itu. Bahkan seperti yang kita tahu, Foucault harus menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tumbal, bagi lempang jalan yang selalu dicintainya, Ilmu Pengetahuan.

Siapakah sebenarnya Foucault ini? Tak mudah untuk menfenisikan dia. Apapun itu, ternyata Foucault tidak menyukai semua julukan yang dilekatkan orang padanya. Sehingga, saya harus pontang-panting untuk mencari buku itu. Tetapi akhirnya, seorang teman pria tak keberatan meminjamkan buku itu. Buku itu adalah Histoire de la sexualite dalam terjemahan bahasa Indonesia.

  LIVING WITH ART MARK GETLEIN 8TH EDITION PDF

Memang penjara dan seks merupakan salah satu tema pokok dalam karya-karya Foucault. Seks di sini bukanlah hubungan yang melibatkan persoalan perkelaminan saja. Seks yang hendak dibidik Foucault adalah sejarah seksualitas dalam beberapa periode dalam masyarakat barat. Seks pada akhirnya bukan lagi persoalan keintiman dan privat semata.

Lebih dari itu, seks sangat terkait erat dengan kekuasaan dan wacana. Madam Sarup seperti yang dikutip Donny Gahral Adian mengatakan, seks di tangan Foucault, tidak lagi mempersoalkan bagaimana orang membelenggu yang lain. Melainkan bagaimana orang membelenggu dirinya sendiri.

Tranformasi-transformasi historis di masa lampau, kata Foucault, telah membuat eksistensi fungsi pengarang menjadi tidak abadi. Betapa kita sebagai manusia telah berutang sama mbah Foucault ini. Di derasnya arus mesin-mesin kekerasan, Foucault menawarkan sebuah oase yang menyegarkan bagi ingatan kita yang terbatas.

Terima kasih ya mbah Foucault.

View all 4 comments. Syahrul Sirajuddin rated it it was amazing Dec 21, Dekonsteuksi Nafizahni rated it liked it Jun 06, Pak Ly added it Mar 27, Yugo added it Jan 15, Crow Fly marked it as to-read Mar 13, Rico Aprisa marked it as to-read Mar 14, One marked it as to-read Mar 25, Dian Permata added it May 05, Nani Sumarni marked it as to-read Oct 11, Didikparavisi Gmailcom marked it as to-read Jan 12, Xie Tcze marked it as to-read Feb 27, Suseno WS marked it dekonxtruksi to-read Dec 15, Nevisia marked it as to-read Dec 18, Samuel Andi marked it as to-read Apr 09, Liviamelda marked it as to-read May 12, Wardahtul Rerrida added it Dec 16, Siwi Ami marked it as to-read Nov 07, Ika marked it as to-read Dec 20,